Senin, 06 Agustus 2012

Menggali Ide Menunggu Berbuka



Tausiyah Menulis – Bulan Seribu Tulisan. Itulah tajuk acara yang dihadirkan Kelas Menulis Purbalingga di bulan Ramadhan kali ini. Acara sederhana ini dimaksudkan untuk sharing dan silaturrahmi dengan teman-teman dari luar Kelas Menulis.

Minggu sore (5/8) kemarin ada dua puluh orang lebih yang hadir di Café Pedangan, Purbalingga. Peserta yang didominasi remaja putri itu antusias mengikuti diskusi bersama Estining Pamungkas, ketua FLP Purbalingga. Wanita berjilbab yang akrab disapa mbak Engky ini memberikan banyak tips menggali ide dan mengatasi kesulitan dalam menulis.

“Siapkan buku kecil di samping tempat tidur. Jadi kalau bangun bisa nulis apa mimpimu semalam. Itu juga salah satu cara menggali ide,” paparnya.

Minggu, 10 Juni 2012

Romantisme Buruh Dalam Puisi (2)


Penasaran dengan puisi-puisi dari teman-teman Kelas Menulis Purbalingga yang dibacakan saat Pentas Puisi; Perempuan Kuru Berbaju Biru? Ini dia beberapa puisi mereka.

Romantisme Buruh Dalam Puisi (1)

Malam minggu (9/6) kemarin, Kelas Menulis Purbalingga membuat persembahan kecil bertajuk Pentas Puisi; Perempuan Kuru Berbaju Biru. Acara itu bertempat di Kafe Pedangan, Purbalingga.

Pentas itu dibuka dengan puisi “Kau Ini Bagaimana Atau Aku Harus Bagaimana” karya Gus Mus yang dibacakan apik oleh mentor Kelas Menulis, Bangkit Wismo. Selanjutnya, secara maraton dibacakan 12 karya puisi oleh empat anggota Kelas Menulis, yakni Alfy Aulia, Fitri Arumsari, Feri Fajar, dan Yuli Widyaningsih.

Dua belas Puisi tersebut mengilhami cerita mini “Bu Ruh” buatan Alfy Aulia. Cerita mini tentang keluarga Ruhyati yang tengah hamil tua tapi harus tetap bekerja demi menyambut kelahiran si jabang bayi.

Ada Fitri dengan puisi “Generasi Sampah” yang penuh penghayatan, Feri dengan “Dia Anakku, Bukan Buruh”. Yuli dengan “Sang Pemuja”, dan terakhir Alfy Aulia dengan puisi “Kasmaran” yang dibawakan manja.

Rabu, 09 Mei 2012

Hubungan Pendidikan Mahal dan Buruh Murah

Buruh dan mahalnya pendidikan memiliki hubungan yang tidak menguntungkan dan tidak akan putus tanpa usaha untuk memperbaikinya. Mahalnya biaya pendidikan membuat daya tawar kaum buruh menjadi sangat rendah dan rentan eksploitasi bahkan kekerasan. Rata-rata pendidikan buruh, terutama perempuan Indonesia 83% hanya mengantongi ijazah SMP, SD atau tidak berijazah sama sekali, sisanya 14,9% tamat SMA, dan 2,8% tamat diploma dan strata 1-3. Selain tidak mampu membayar biaya sekolah, motivasi anak-anak perempuan untuk melanjutkan pendidikan juga dihambat oleh konservatisme keluarga yang patriarkis, dimana anak laki-laki yang harus diprioritaskan.

Karena pendidikan mahal dan gaji buruh tidak bisa untuk mengaksesnya, maka  terjadilah buruh melahirkan buruh atau disebut juga reproduksi kelas. Hal ini juga disebabkan oleh sistem pendidikan yang hanya mementingkan daya saing dan mencetak pekerja, bukan pendidikan yang bersifat ilmiah, demokratis, dan mengabdi kepada masyarakat.

Jumat, 06 April 2012

Gugur Kuncup Sidaguri

Hujan turun sedari sore. Tak mau berhenti. Seakan ingin menyiram tiap jengkal tanah yang gersang terpapar mtahari siang tadi. Gadis manis itu masih terududuk dibelakang meja kayu. Rambut panjang sebahunya terikat sembarang dibelakang kepala. Meninggalkan sejumput helai yang dibiarkan tergantung canggung tatkala ia asyik menulis.

Sesekali senyum manisnya terkembang. Matanya ikut tertawa jenaka seiring pikirannya yang melayang entah kemana. Mengembara.

Rabu, 04 April 2012

Bukan Bunga Padang


Jangan mengharap bunga di teras orang
Ia masih bisa dipandang tapi memetiknya pantang
Aku pun jangan kau tunggu
Biar aku jadi mawar tuan besar saja

Aku, sekalipun ingin, tak bisa menggugat
Ragaku telah dilabeli, wangi sudah dibeli
Meski hatiku masih lari-lari
Ya padamu, Kumbang Liar

Andailah aku bunga di padang
Bebas menari mengikut angin
Kita bercinta di bawah terik dan hujan

Jumat, 30 Maret 2012

Pernikahan

Aku beronje melati dan kau berpeci
Kita disaksikan pasang-pasang mata
Akad kau ucap mantap
Bahagia yang meluap-luap; barokallah

Hari itu lunas penantian
Bermahar ikhtiar yang tak putus
Setengah dien digenapkan