Selasa, 14 Mei 2013

Aku dan Purbalingga [Juara III SCMP 2013]


Tak banyak orang mengenalku di sekolah. Aku orang yang sederhana, apa adanya. Namaku Candra Maimunah Hartati. Aku lahir dari keluarga yang serba Kekurangan. aku hidup jauh dari orang tua.

Suatu pagi, aku ke sekolah dengan percaya diri, optimis. Tepatnya Kamis,11 April 2013. Di sebuah jalan raya yang begitu megah, aku melihat sebuah mobil mewah dri arah selatan.

Di mobil mewah tersebut, aku melihat pejabat besar purbalingga yang mengendarainya. Di suatu sisi aku juga melihat sekumpulan anak jalanan yang tidur di emperan toko.

Rabu, 03 April 2013

Kelas Menulis Purbalingga Gelar SCMP 2013

Anggota Kelas Menulis sedang berdiskusi, beberapa waktu lalu.
Untuk lebih menggairahkan dunia kepenulisan di kalangan kaum muda Kota Perwira Purbalingga, Kelas Menulis Purbalingga menggelar Sayembara Cerita Muda Purbalingga (SCMP) 2013.

"Dibanding dengan kabupaten lainnya di Banyumas Raya, dunia sastra Purbalingga seperti lesu. Sangat jarang ada karya lahir di Purbalingga," kata Ketua Panitia SCMP 2013, Fitri Arumsari, Rabu (3/4) kemarin.

Padahal, sambung Fitri, banyak teman-teman pelajar yang sering membuat puisi atau cerita pendek. "Karya-karya itu lebih banyak cuma berakhir di catatan harian. SCMP inilah yang akan menjadi ruang belajar sekaligus berekspresi pelajar di dunia sastra," ujar Fitri.

Peserta SCMP 2013 ialah pelajar SMP dan SMA di Kabupaten Purbalingga. Tema yang diangkat yakni Aku, Pemimpin dan Purbalingga. "Temanya sengaja diangkat untuk lebih mendekatkan penulis kepada lingkungan sekitar mereka," ujar anggota Kelas Menulis Purbalingga itu.

Adapun karya yang dikirim maksimal 500 kata Karya peserta, jelas Fitri, bisa dikirimkan ke email Kelas Menulis Purbalingga, yakni maksapurbalingga@gmail.com. Pengiriman karya dinanti sampai dengan 14 April 2013 mendatang.

Selain mendapatkan paket hadiah dari Kelas Menulis Purbalingga, tiga karya terbaik akan ditampilkan di media massa. "Kami bekerjasama dengan Satelit Post untuk bisa menerbitkan karya, biar masyarakat juga bisa melihat karya penulis Purbalingga," kata Fitri.

Selasa, 18 Desember 2012

Denting Seruni

Suara langkah kaki itu semakin cepat. Alas sepatu yang keras membuat bunyi yang cukup nyaring. Kedua tangan kurusku mendekap erat kedua kakiku. Berharap dapat meredam gemetar hebat tubuhku. Suara itu semakin mendekat. Tuhan, aku mohon jangan biarkan dia menemukanku. Jangan biarkan hal mengerikan itu terjadi padaku.
            BRAK!!! Keringat dingin makin deras membasahi tubuhku. Lemari kayu tempat aku bersembunyi serasa menjadi transparan. Rasa takutku kian membuncah. Langkah kaki itu mantap mendekat dengan tempatku meringkuk sekarang.
            “Asep! Sudahlah. Lupakan saja cewek sialan itu.” Suara seorang laki-laki memanggilnya. Mungkin kawannya. Aku tidak peduli siapa laki-laki yang memanggilnya. Yang aku harapkan sekarang laki-laki bajingan bernama Asep itu meninggalkan ruangan ini segera. Melupakan keberadaanku dan tak pernah muncul di depanku lagi.
            “Si bagong mbawa cewek baru lagi. Lebih sip,” lanjut laki-laki tadi. Tanpa mengeluarkan sepatah katapun, laki-laki bernama Asep itu berjalan menjauh. Walau perlahan, namun aku yakin dia keluar dari ruangan ini.
***

Sabtu, 06 Oktober 2012

Kolam Keruh

Menyenangkan melihat kolam air
Ia jujur, tidak mudah diplintir
Menampilkan apa yang hadir
Jika baik maka jernih, jika buruk maka anyir

Sayang, air di kolam besar itu keruh
Padahal dekat orang paling berpengaruh
Duh, apa beliau tidak tersentuh
Pada wajah-wajah yang terefleksikan lusuh?

Senin, 06 Agustus 2012

Menggali Ide Menunggu Berbuka



Tausiyah Menulis – Bulan Seribu Tulisan. Itulah tajuk acara yang dihadirkan Kelas Menulis Purbalingga di bulan Ramadhan kali ini. Acara sederhana ini dimaksudkan untuk sharing dan silaturrahmi dengan teman-teman dari luar Kelas Menulis.

Minggu sore (5/8) kemarin ada dua puluh orang lebih yang hadir di Café Pedangan, Purbalingga. Peserta yang didominasi remaja putri itu antusias mengikuti diskusi bersama Estining Pamungkas, ketua FLP Purbalingga. Wanita berjilbab yang akrab disapa mbak Engky ini memberikan banyak tips menggali ide dan mengatasi kesulitan dalam menulis.

“Siapkan buku kecil di samping tempat tidur. Jadi kalau bangun bisa nulis apa mimpimu semalam. Itu juga salah satu cara menggali ide,” paparnya.

Minggu, 10 Juni 2012

Romantisme Buruh Dalam Puisi (2)


Penasaran dengan puisi-puisi dari teman-teman Kelas Menulis Purbalingga yang dibacakan saat Pentas Puisi; Perempuan Kuru Berbaju Biru? Ini dia beberapa puisi mereka.

Romantisme Buruh Dalam Puisi (1)

Malam minggu (9/6) kemarin, Kelas Menulis Purbalingga membuat persembahan kecil bertajuk Pentas Puisi; Perempuan Kuru Berbaju Biru. Acara itu bertempat di Kafe Pedangan, Purbalingga.

Pentas itu dibuka dengan puisi “Kau Ini Bagaimana Atau Aku Harus Bagaimana” karya Gus Mus yang dibacakan apik oleh mentor Kelas Menulis, Bangkit Wismo. Selanjutnya, secara maraton dibacakan 12 karya puisi oleh empat anggota Kelas Menulis, yakni Alfy Aulia, Fitri Arumsari, Feri Fajar, dan Yuli Widyaningsih.

Dua belas Puisi tersebut mengilhami cerita mini “Bu Ruh” buatan Alfy Aulia. Cerita mini tentang keluarga Ruhyati yang tengah hamil tua tapi harus tetap bekerja demi menyambut kelahiran si jabang bayi.

Ada Fitri dengan puisi “Generasi Sampah” yang penuh penghayatan, Feri dengan “Dia Anakku, Bukan Buruh”. Yuli dengan “Sang Pemuja”, dan terakhir Alfy Aulia dengan puisi “Kasmaran” yang dibawakan manja.